HOME ARTWORKS REVIEWS FOLLOW

Sep 24, 2018

Draft 12 - Untitled Yet

15 September

Jogja sedang panas.


Mau pagi hari, siang, atau malam seperti ini pun- aku merasa gerah. Apalagi saat aku dengan bodohnya mengenakan pakaian serba hitam seperti ini- kemeja satin hitam, ripped-jeans hitam serta flat shoes berujung lancip yang juga hitam. Aku hanya perlu memoleskan lipstik hitam agar orang-orang memanggilku emo.

Aku meraih ponsel yang kuletakkan di saku kemejaku, entah sudah keberapa kalinya aku berpura-pura membalas pesan yang tidak pernah masuk. Aku tahu orang-orang sekitarku juga tidak peduli bahwa aku telah menunggu sendirian di café ini hampir sejam lamanya, bahwa aku telah menghabiskan macchiato di hadapanku beberapa menit lalu.


Kak, masih lama? : ( 


Ini ketiga kalinya aku menanyakan hal yang sama padanya. Dia lama sekali, sih…
Centang satu, pula. Ah, aku ingin sekali menonjok wajahnya nanti. Aku mendengus dalam hati, tau betul bahwa itu hanya omong kosong belaka. Tidak mungkin aku akan benar-benar menonjoknya.

Aku menghabiskan menit-menit selanjutnya menonton video-video di Instagram. Seketika aku menyesal kenapa tidak terpikir untuk menginstall game di ponselku. Bahkan aku melupakan headsetku. Ini benar-benar bikin dongkol saja.

Aku kembali membuka chatku dengan dia. Sudah centang dua, tapi masih belum dibaca. Aku mengernyit heran. Masa sih, chatku dicuekin? Tapi dia pasti sedang menuju kemari, kan? Tidak mungkin dia membuka ponselnya saat menyetir- tapi dia membawa mobil, tidak sesusah itu membuka ponselmu saat kau menyetir.

Pemikiran-pemikiran dan prasangka sudah memenuhi kepalaku saat tiba-tiba pintu depan kafe terbuka- aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu, berharap orang yang membukanya adalah dia-

Memang dia.

Senyumku mengembang otomatis melihatnya yang sedang berjalan ke arahku, dia dengan kaos hitam dan celana jeans biru gelap, mengenakan Converse hitam favoritnya. Rambutnya yang kemarin sedikit memanjang sudah dicukur rapi- model apa sih, namanya? Undercut, ya? Yang jelas, terlihat cocok sekali untuknya. Gayanya sangat simpel, effortless, dan tidak menunjukkan sama sekali bahwa dia telah berada di usianya yang ke-27 tahun ini.
Dia tampak sebaya denganku- yang baru saja menginjak 20 tahun bulan lalu. Tapi sebelum dekade kedua ini pun, aku sering dikira telah berusia dua-puluhan. Mungkin karena makeup yang kugunakan- tidak bisa aku keluar tanpa makeup.

Menor? Persetan. Aku suka makeup dan tidak ada orang yang mampu mengubah pandanganku akan hal itu.

“Lama banget, ya?”

Iyalah, kampret. Tapi aku hanya tersenyum, mempersilahkannya duduk sambil menjawab,
“Gapapa, kak. Tadi pasti macet, kan?”

Aduh, cara dia duduk saja benar-benar mampu menyihir kejengkelan dan amarahku beberapa detik lalu menjadi kekhawatiran dan penyesalan. Aku benci-benci suka dengan orang ini, memang.

Dia menoleh sebentar ke arah counter, mungkin ingin memesan sesuatu. Di café ini, kau sendiri yang harus menghampiri counter dan memesan. Untungnya ada pelayan yang siap mengantarkan pesananmu. Aku terlalu malas untuk beranjak jika namaku dipanggil, macam Starbucks saja..

“Lumayan, sih. Ini kan Satnight, ga heran.”

Aku meringis dalam hati, seketika merasa berdosa karena mengajak dia keluar pada malam minggu seperti ini. Aku hanya mahasiswi tanpa UKM dan teman-temanku sedang sibuk semua, sementara dia adalah karyawan yang mungkin saja memiliki setumpuk pekerjaan di rumah.

Dia menyempatkan waktunya untukku, dan aku masih saja marah-marah karena dia telat. Wah, brengsek sekali aku.

“Sorry, kak. Jeihan jadi ga enak karena ngajakin keluar di malam weekend begini,” aku menyunggingkan senyum termanisku- hih, jijik juga ya mengatakannya.

“Gapapa. Kakak juga lagi butuh fresh air, sih.” Matanya mengitari ruangan kafe sejenak- mau luar atau dalam, kafe ini memang sangat ramai malam ini. Entah itu pasangan, sekumpulan cowok yang sedang merokok di luar, ataupun anak-anak muda yang entah sedang membicarakan apa di pojokan sana, yang jelas mereka cukup berisik.

"Mungkin maksud kakak refreshing ya? Ini kan kafe, mana ada fresh air disini-"

Belum juga aku selesai bicara, dia tertawa- demi apa sih, dia cuma tertawa, Jeihan. Nothing so special about it! Ga perlu sampai berdebar seperti ini.

Aku memanyunkan bibirku, "Ada yang lucu?" tanyaku pura-pura kesal. Kan sudah kubilang, aku tidak bisa kesal lama-lama pada orang ini.

"You always discuss even smallest matter, huh?" ujarnya sambil menyeringai iseng. Aku, yang masih berdebar karena tawanya barusan, kini makin menjadi. Kalau ini anime, wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus.

Berusaha untuk mengalihkan topik, aku pura-pura menyadari bahwa kopiku sudah habis. Hah, padahal daritadi memang sudah habis. "Yah, udah habis, gara-gara kelamaan nungguin kakak, nih." Kini giliranku yang menyeringai iseng, dan sejujurnya, aku berekpektasi dia akan tertawa, atau apa kek gitu.

Tapi dia hanya diam saja.

Haha. Aku berasa bego.

“Kakak mau pesan apa? Biar Jeihan pesankan sekalian.” ujarku sambil beranjak dari kursiku, meraih dompet yang ada di tasku.

“Choco frappe, banyakin sirupnya ya.”

Aku tersenyum kecil. Dia suka sekali rasa manis-manis, sweet tooth kan istilahnya? 
Berarti dia juga suka padaku? Hahahahaha!

Ingin ku berkata kasar pada diriku.

“Kak, macchiato dan choco frappe-nya satu, di table 17, ya.” Aku melihat sekilas ke arah papan menu di belakang pegawai yang sedang melayaniku, dan mataku tertuju pada foto menu banana split.
“Oh ya, banana split satu. Topping cokelat, ya.”

Pegawai itu mengangguk, lalu dengan sigap memberikan pesanan pada barista dan bagian kitchen. Pegawai itu tengah mencarikan kembalian untuk uangku saat aku memalingkan wajahku ke arah kakak.

Dia mengedipkan sebelah matanya padaku saat menangkapku memandanginya- aku malu sekali, tapi aku pun membalas kedipannya dengan menjulurkan lidahku.

Sialan.

“Ini, kak.” Pegawai itu memberikan kembaliannya, lalu tersenyum ramah padaku, “Silahkan ditunggu ya.” Aku mengangguk, membalas senyumannya. Terasa menyenangkan, bukan, kalau pegawainya ramah seperti ini?

Dia tengah sibuk dengan ponselnya, wajahnya tampak serius, sebelum dia menengadah menatapku dan bertanya, “Jeihan hari ini nginap, ga?”

Rumah kakak berlokasi di Ngaglik, Sleman. Sekitar setengah jam dari lokasi kos ku yang berada di Bantul. Aku masih tidak begitu paham soal wilayah-wilayah di Jogja, dan tentang Km 7, Km 15 atau sebagainya. Tapi yang aku tau betul adalah lokasi kami berjauhan.

“Sepertinya hari ini engga dulu, kak. Jeihan kan ga bawa baju ganti."

Dia mengernyit, “Kan Jeihan bisa pakai baju Jeihan yang kemarin ketinggalan. Atau bahkan baju kakak, ga masalah kan?” yaelah. Dia tidak tau efek baper yang kurasakan jika mengenakan pakaiannya, mungkin.

Kalau aku memakai pakaiannya, aku jadi merasa seperti pacarnya, seperti miliknya- hei, jangan salahkan aku karena berpikir seperti itu.
  
“Mama nanyain Jeihan dari tadi sore, katanya Jeihan mau nginap hari ini.” Dia menyeringai tipis, “Tante Sara bilangnya gitu sih.”

Kali ini giliranku yang mengernyit.

Ah, lagi-lagi mama! Kenapa sih, mama selalu ingin aku menginap di tempat bude?! Kan aku jadi tidak enak..

Tapi kalau kakak sudah bilang begitu, ya apa boleh buat. Aku lebih tidak enak pada bude jika menolak tawarannya untuk menginap, apalagi sudah lama sejak terakhir kali aku menginap.

“Ya udah, deh.” Aku akhirnya menurut, “Jeihan jadi nginap kok hari ini.”

Dia hendak mengatakan sesuatu saat tiba-tiba pelayan menghampiri kami dengan nampan berisi pesanan kami, “Satu Macchiato, satu choco frappucino dengan banana split topping cokelat. Pesanannya sudah semua ya, kak?”

Kami berdua mengangguk, dan aku membalas senyum pelayan itu sebelum dia beranjak kembali mengantarkan pesanan. Hei, dia imut juga ya…

“Sadar, woi. Semua cowok cakep diliatin ya sampai lupa sama yang di depannya.”

Suara kakak menyadarkanku dari lamunan sesaatku barusan. Hah, kenapa dia terdengar cemburu seperti itu, sih? Aku jadi berprasangka, haha! Konyol sekali, Jeihan.

“Tapi ga ada yang bisa mengalahkan kakak, kok!”

Asal kau tahu saja, aku bukan cewek genit yang mudah menggombali seseorang, apalagi cowok. Tapi kalau dengan orang di hadapanku ini, rasanya mudah sekali melakukannya. Mudah sekali untuk mengekpresikan apa yang kurasakan.

Mungkin ini yang orang-orang sebut sebagai rasa nyaman, ya? Memang sih, tidak mudah bagiku merasa nyaman pada seseorang.

Kakak hanya tertawa- oh damn, that laugh though! Aku memandanginya seksama saat dia mulai meminum isi cangkirnya, bagaimana dia menundukkan pandangannya sedikit saat matanya bergerak ke arah sekitarnya-

atau saat matanya beralih menatapku.

Dia tidak berkata apapun, atau menyunggingkan senyum seperti biasa saat mata kami bertemu.

Kami terdiam seperti itu untuk sejenak, dan seketika aku merasa seperti berada di novel- hanya kami berdua, dengan orang-orang sekitar yang tampak kabur. Kamilah karakter utamanya, and nothing matters but this moment.

Aku tidak berkedip sama sekali- aku tidak ingin merusak hal ini dengan berkedip atau memalingkan wajahku. Aku bisa merasakan jantungku berdegub semakin kencang, aliran darah di pergelangan tanganku yang bahkan begitu terasa denyutannya di sekujur tubuhku.

Sementara dia- dia sama sekali tidak bergeming. Wajahnya tampak serius, tapi juga tanpa ekspresi. Dia meletakkan cangkirnya perlahan, dan saat itu juga dia berdehem, memecah keheningan yang begitu mendebarkan barusan.

Aku tidak tau harus bernafas lega atau kesal karena kini dia lebih memilih memandangi meja kayu itu daripada aku.

Ah, ini semua gara-gara aku menggombalinya, sih! Kami jadi canggung sekarang. Atau mungkin aku saja, tapi entahlah. Atmosfirnya sudah berbeda sekarang…

Aku pura-pura sibuk mengaduk macchiato-ku, padahal sudah daritadi aku melakukannya. Buru-buru, aku langsung mengambil sendok dan mengambil potongan besar banana splitku, lalu pura-pura sibuk mengaduk macchiato ini lagi. Hah, aku gugup sekali.

...